Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Rencana Kapal Induk TNI AL di Tengah Kebijakan Hemat Anggaran Pemerintah

Moch Vikry Romadhoni • Senin, 17 Februari 2025 | 01:44 WIB

 

KRI Hampala-880 dan KRI Lumba-Lumba-881, dua kapal perang baru TNI AL yang diresmikan oleh KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali di Jakarta pada Selasa (17/12).
KRI Hampala-880 dan KRI Lumba-Lumba-881, dua kapal perang baru TNI AL yang diresmikan oleh KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali di Jakarta pada Selasa (17/12).

Radar Pasuruan - Pemerintah telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 yang mengarahkan seluruh Kementerian/Lembaga (K/L) untuk melakukan efisiensi anggaran dengan target penghematan sebesar Rp 306,69 triliun.

Setiap menteri dan pimpinan lembaga diharapkan dapat menyetorkan hasil efisiensi anggaran tersebut kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) paling lambat Jumat (21/2) mendatang.

Namun, dilansir dari Jawa Pos, di tengah upaya efisiensi ini, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (TNI AL) Laksamana Muhammad Ali menyampaikan bahwa pihaknya sedang mengkaji kemungkinan pengadaan kapal induk guna meningkatkan operasi militer selain perang (OMSP).

"Saya kira kita membutuhkan kapal induk untuk operasi militer nonperang," ujar Ali kepada wartawan di Markas Besar TNI AL, Jakarta Timur, pada awal Februari.

Selain kapal induk, TNI AL juga telah mengusulkan pengadaan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) kepada Kementerian Pertahanan (Kemhan), termasuk dua kapal patroli lepas pantai kelas fregat dari Italia.

"Kami berencana mendatangkan berbagai alutsista dalam beberapa tahun ke depan," tambahnya.

Di sisi lain, TNI AL juga menyiapkan dua kapal kelas fregat yang diproduksi dalam negeri untuk memperkuat armada. Selain itu, beberapa alutsista akan diterima dari hibah negara lain, seperti Turki dan Jepang.

Dari Turki, TNI AL dijadwalkan menerima kapal cepat rudal (KCR), sementara dari Jepang, dua kapal patroli akan dikirim untuk memperkuat pertahanan di Pangkalan Angkatan Laut Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ali menjelaskan bahwa kapal patroli dari Jepang ini sangat sesuai dengan kondisi geografis di sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN), yang memiliki banyak sungai.

"Kapal kecil dengan panjang 18 meter ini memungkinkan kami untuk melakukan patroli keamanan di sungai-sungai sekitar IKN," jelasnya.

Namun, mengutip laporan The Economist, pengadaan dan pemeliharaan kapal induk memerlukan biaya yang sangat besar. Hal ini bertolak belakang dengan upaya efisiensi anggaran yang saat ini menjadi fokus pemerintah.

 

Sebagai perbandingan, Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menghabiskan sekitar USD 726 juta per tahun untuk mengoperasikan dan merawat kapal induk kelas Nimitz.

Setiap kapal induk membutuhkan sekitar 6.000 personel untuk operasionalnya, serta dana antara USD 3-5 miliar untuk pengadaan pesawat tempur yang ditempatkan di kapal tersebut.

Bahkan, operasional sekitar 75 pesawat tempur yang ditempatkan di kapal induk dapat memakan biaya hingga USD 1,8 miliar per tahun.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#efesiensi anggaran #kapal induk #Inpres #tni al