Salah Seorang Influncer, Kalis mardiasih mengatakan belakangan ini, modus hubungan toxic semakin beragam.
Salah satu yang muncul adalah manipulasi melalui konsep love language.
Dalam berbagai pelatihan dengan anak muda, cerita tentang pacar yang menggunakan alasan love language untuk memaksa kontak fisik semakin sering terdengar.
Modus ini sering kali berujung pada pelecehan seksual, di mana salah satu pihak memaksa pasangannya dengan alasan, “Love language aku itu physical touch. Kalau kamu enggak bisa, kita enggak cocok.”
Hal ini membuat korban sering kali merasa terjebak. Di satu sisi, mereka tidak menginginkan kontak fisik yang intim, tetapi di sisi lain, mereka takut ditinggalkan karena dianggap tidak memenuhi kebutuhan pasangannya.
Padahal, menurut pakar hubungan, konsep love language sendiri tidak sepenuhnya valid.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Gary Chapman dalam bukunya The Five Love Languages: The Secret to Love That Last, yang terbit pada 1992.
Buku tersebut menjadi populer karena kesederhanaannya dalam menjelaskan cara-cara mengekspresikan cinta, seperti acts of service, physical touch, quality time, receiving gifts, dan words of affirmation.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa konsep tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Dr. Martin Graff, seorang dosen senior di bidang hubungan romantis di University of South Wales, UK, mengungkapkan bahwa love language hanya memiliki pengaruh kecil terhadap keberhasilan hubungan jangka panjang.
Hubungan yang langgeng lebih dipengaruhi oleh kesamaan nilai-nilai inti seperti pandangan politik, nilai etika, dan ekspektasi hidup, bukan kesamaan love language.
Manipulasi dengan alasan love language adalah bentuk pelanggaran batas personal yang sering kali menimbulkan ketidaknyamanan.
Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran tentang batasan dalam hubungan dan memastikan komunikasi yang sehat berdasarkan nilai-nilai yang lebih mendalam dan bermakna.
Editor : Moch Vikry Romadhoni