Radar Pasuruan – Poster terbaru film Pabrik Gula garapan rumah produksi MD Pictures menuai kontroversi setelah ramai diperbincangkan di media sosial.
Alih-alih mendapat pujian, poster tersebut justru dihujani kritik karena dinilai menampilkan adegan dewasa secara vulgar.
Dilansir dari Jawa Pos, film horor ini digarap oleh sutradara Awi Suryadi dan diadaptasi dari thread populer karya Simpleman, yang menceritakan kisah misteri di sebuah pabrik gula tua.
Namun, promosi film ini justru mendapat sorotan negatif karena strategi pemasaran yang dianggap sengaja memancing perhatian melalui poster kontroversial.
Netizen berpendapat bahwa poster vulgar tersebut sengaja dirancang sebagai trik marketing untuk menarik rasa penasaran calon penonton.
“Kayaknya sengaja dibikin begitu, secara ada orang Indonesia yang lebih suka nonton hal begituan,” tulis seorang pengguna media sosial.
Kritik Tajam dari Warganet
Komentar pedas terus bermunculan. Beberapa warganet bahkan mempertanyakan proses lolosnya poster tersebut dari sensor.
• “Judulnya Pabrik Gula, tapi posternya orang lagi begituan. Lolos sensor gimana ceritanya?”
• “Ini pabrik gula apa pabrik sugar daddy? Posternya nggak nyambung sama cerita.”
• “Sampah! Harusnya judulnya diganti jadi Euean di Pabrik Gula.”
Kontroversi ini memunculkan kekhawatiran bahwa poster tersebut bisa diakses oleh anak-anak. Banyak yang menilai langkah ini tidak etis dan hanya berfokus pada sensasi dibandingkan kualitas karya.
Terlepas dari polemik, Pabrik Gula mengangkat cerita tentang kehidupan para buruh di sebuah pabrik penggilingan tebu tua.
Awalnya, pekerjaan berjalan lancar, hingga salah satu buruh bernama Endah mengalami kejadian aneh pada malam hari.
Endah mengaku dibuntuti sosok misterius yang menebar teror di pabrik. Sejak itu, berbagai insiden tragis terjadi, mulai dari kecelakaan kerja hingga kematian mengenaskan.
Teror ini ternyata berasal dari sosok demit yang marah, menjadikan pabrik tua itu penuh ancaman bagi para pekerja.
Polemik ini memicu diskusi tentang etika promosi di industri perfilman.
Meski kontroversi berhasil mencuri perhatian publik, banyak pihak berharap fokus kembali pada cerita dan kualitas film.
Dengan isu etika promosi yang mencuat, akankah Pabrik Gula berhasil membuktikan diri di layar lebar? Hanya waktu yang akan menjawab.
Editor : Moch Vikry Romadhoni