Radar Pasuruan - Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha menyampaikan pandangan tegas tentang pentingnya mematuhi hukum sosial, bahkan bagi individu yang memiliki kedudukan tinggi atau kedekatan spiritual dengan Allah.
Pernyataan tersebut dianggap sebagai respons atas kontroversi yang menimpa Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah), yang menuai kritik usai videonya menghina penjual es teh dan Yati Pesek menjadi viral.
“Dalam kehidupan sosial, hukum sosial tetap berjalan. Bahkan Nabi Muhammad pernah menang di Perang Badar, tapi juga kalah di Perang Uhud,” ungkap Gus Baha saat berbicara di Universitas Islam Indonesia.
Gus Baha menegaskan, sekalipun seseorang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah, melanggar norma sosial tetap akan membawa konsekuensi.
Ia mengutip pemikiran Ibnu Khaldun untuk mengilustrasikan hal ini.
“Meskipun Nabi bisa terbang ke langit dalam peristiwa mi’raj, jika bertindak tidak sopan—menampar anak kecil atau meludahi orang tua—tetap tidak diterima. Sekalipun Rasulullah didukung oleh sekian alam raya, sekali melanggar tata krama sosial, orang akan bubar,” kata Gus Baha.
Ia juga mengakui bahwa dirinya, sebagai tokoh agama, tetap terikat oleh hukum sosial. “Misalnya saya meludahi Pak Rektor, dipastikan langsung saya dipecat,” ujarnya sembari memberikan contoh.
Gus Baha menekankan pentingnya menjaga tata krama sosial dalam setiap interaksi, terutama bagi pemuka agama yang seharusnya menjadi teladan.
Hal ini relevan sebagai pelajaran dari kasus Gus Miftah, di mana masyarakat dinilai berhak untuk mengingatkan atau menegur jika seorang tokoh agama melakukan kesalahan.
Editor : Moch Vikry Romadhoni