Radar Pasuruan - Jumlah kasus penyakit Tuberkulosis (TBC) yang ditemukan di Kota Pasuruan pada awal tahun ini terbilang cukup tinggi.
Sebanyak 177 kasus baru tercatat, meskipun tidak ada laporan kematian akibat penyakit tersebut.
Angka temuan yang tinggi ini terjadi karena adanya peningkatan upaya pelacakan dan penemuan kasus di masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan, dr. Shierly Marlena menyatakan bahwa kasus TBC paling sering ditemukan di wilayah permukiman padat penduduk dan lingkungan yang kumuh.
Sebab utama penularan penyakit ini adalah kondisi lingkungan yang tidak sehat.
TBC dapat menyebar melalui udara, terutama kepada individu yang memiliki sistem imun lemah.
Penyebabnya pun beragam, bisa karena infeksi bakteri, rendahnya daya tahan tubuh, serta kondisi lingkungan yang mendukung penyebaran penyakit.
Gejala umum TBC antara lain adalah batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, penurunan berat badan sebanyak 10 persen, berkeringat di malam hari tanpa aktivitas fisik, dan tubuh terasa lemas.
“Pencegahan penyakit TBC, bisa dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Penularannya di lingkungan yang kotor,” katanya.
Shierly menjelaskan bahwa penyakit TBC sebenarnya bisa disembuhkan, dengan catatan penderita harus rutin menjalani pengobatan selama enam bulan penuh.
Apabila pengobatan tidak dijalankan dengan disiplin, maka tubuh bisa menjadi kebal terhadap obat, dan proses penyembuhan pun akan semakin sulit.
Bahkan, jika pengobatan diabaikan, penyakit ini bisa berujung pada kematian.
Oleh karena itu, jika seseorang menunjukkan gejala TBC, maka sebaiknya segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan perawatan.
Ketika ada pasien yang terdeteksi menderita TBC, Dinkes langsung melakukan pelacakan kontak dengan orang-orang terdekatnya, termasuk keluarga dan kerabat.
Langkah ini diambil sebagai bentuk deteksi dini dan pencegahan penularan. Jika ditemukan ada yang ikut tertular, maka dapat segera diberikan pengobatan. Program pemberantasan TBC ini merupakan salah satu quick win Presiden Prabowo Subianto. Targetnya, TBC bisa dieliminasi pada tahun 2030.
Dengan upaya pelacakan aktif, semakin banyak kasus yang ditemukan justru semakin baik untuk memutus rantai penularan.
Editor : Moch Vikry Romadhoni