Radar Pasuruan - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) laki-laki di Kota Pasuruan pada 2023 mencapai 5,91 persen, lebih tinggi dibandingkan perempuan yang hanya 5,30 persen.
Kepala BPS Kota Pasuruan, Imam Sudarmaji, menyebutkan bahwa salah satu penyebab tingginya TPT laki-laki adalah rendahnya pendidikan dan minimnya keterampilan yang dimiliki.
“Dari 100 orang angkatan kerja, terdapat antara lima hingga enam orang yang menganggur. Mereka adalah yang belum bekerja dan masih mencari pekerjaan,” ujar Imam, Rabu (4/12).
Secara keseluruhan, TPT di Kota Pasuruan pada 2023 tercatat sebesar 5,64 persen, mengalami penurunan dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Pada 2021, TPT sebesar 6,23 persen, sementara pada 2022 turun menjadi 6,18 persen. Namun, perbedaan pola pengangguran terlihat antara tahun 2022 dan 2023.
“Pada 2022, TPT perempuan lebih tinggi, yaitu 6,50 persen dibandingkan laki-laki yang sebesar 5,96 persen. Tapi pada 2023, TPT laki-laki justru naik menjadi 5,91 persen, sedangkan perempuan turun menjadi 5,30 persen,” jelas Imam.
Imam menambahkan bahwa beberapa faktor memengaruhi tingginya TPT di Kota Pasuruan, baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Faktor tersebut mencakup rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya keterampilan, ketidaksesuaian antara pendidikan dengan kebutuhan industri, dan terbatasnya akses pendidikan yang terjangkau.
Selain itu, pertumbuhan penduduk yang tinggi dan rendahnya minat pengusaha membuka lapangan kerja turut menjadi penyebab.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Pasuruan, Mahbub Effendi, mengatakan bahwa mengentaskan pengangguran bukanlah hal yang mudah.
Pemkot telah berupaya melalui pelatihan kerja dan program magang di perusahaan setempat, agar pencari kerja dapat diserap oleh industri atau mampu membuka usaha sendiri.
“Namun, tantangannya adalah jumlah penduduk yang mencari kerja terus bertambah setiap tahunnya, sementara kapasitas pelatihan masih terbatas,” tutur Mahbub.
Dengan berbagai tantangan tersebut, Pemkot Pasuruan terus berupaya menekan angka pengangguran, meskipun membutuhkan waktu dan strategi yang lebih menyeluruh. (riz)
Editor : Moch Vikry Romadhoni