PASURUAN, Radar Bromo-Pemerintah Kota Pasuruan masih punya pekerjaan rumah untuk memerangi kemiskinan ekstrem. Berdasarkan data terbaru, masih ada 174 kepala keluarga (KK) di Kota Pasuruan yang masuk kategori miskin ekstrem.
Meski begitu, Pemkot Pasuruan mengklaim, tingkat kemiskinan ekstrem di Kota Pasuruan terus menyusut.
Kepala Dinsos Kota Pasuruan Kokoh Arie Hidayat mengungkapkan, jumlah penduduk miskin ekstrem menyusut 3.837 KK dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2023, jumlahnya turun menjadi 891 KK. Padahal, sebelumnya mencapai 4.011 KK.
Penduduk yang masuk kategori miskin ekstrem adalah mereka yang memiliki pengeluaran Rp 325 ribu dalam sebulan.
Artinya, dalam sehari, satu KK hanya mengeluarkan Rp 10.800 untuk konsumsi makanan.
"Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) sempat merilis jumlah miskin ekstrem itu sebanyak 4.011 KK di tahun 2022. Saat ini, jumlahnya tersisa 174 KK," kata Kokoh.
Sebanyak 174 KK tersebut sedang dianalisis kembali oleh Dinsos Kota Pasuruan. Hasilnya, ditetapkan dalam Surat Keputusan (SK) Wali Kota pada Juli mendatang.
Penyusutan jumlah penduduk miskin ekstrem, tidak terlepas dari verifikasi yang dilakukan oleh Dinsos Kota Pasuruan. Mereka yang masuk kategori ini diberi penanganan khusus.
Salah satunya, mendapat Bantuan Sosial (Bansos) dengan nilai Rp 300 ribu setiap bulan untuk setiap KK. Mereka bisa mendapatkannya setiap bulan.
Selain itu, ada pula pemberian bantuan modal usaha. Nilainya Rp 2,5 juta.
Namun, mereka harus memiliki rencana anggaran biaya. Misalnya mereka ingin usaha bakso, maka harus ada rincian untuk pembelian bahan, hingga sarana yang digunakan untuk berjualan.
"Ada Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) yang mendampingi. Mereka memonitor agar bantuan ini bisa tepat sasaran saat digunakan," sebut Kokoh. (riz/one)
Editor : Muhammad Fahmi