Radar Pasuruan - Iran mengumumkan telah berhasil mengganti sistem pertahanan udaranya yang rusak akibat konflik terbuka dengan Israel pada Juni lalu. Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Kepala Operasi Angkatan Darat Iran, Mahmoud Mousavi, seperti dilansir kantor berita militer Defah Press, Minggu (20/7/2025) waktu setempat.
Ketegangan bersenjata antara kedua negara mencapai puncaknya bulan lalu saat Angkatan Udara Israel menembus wilayah Iran dan menghancurkan beberapa bagian penting dari sistem pertahanan udara. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel dalam sebuah eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Memang benar bahwa sebagian sistem pertahanan udara kami mengalami kerusakan. Tapi kami telah menggantinya menggunakan sumber daya lokal dan sistem yang sudah kami siapkan sebelumnya di lokasi strategis," ujar Mousavi, dikutip dari Reuters, Senin (21/7/2025).
Sebelum konflik meningkat, Iran telah mengoperasikan sistem pertahanan jarak jauh buatan sendiri seperti Bavar-373, serta menggunakan sistem buatan Rusia, S-300. Namun dalam pernyataan terbaru, tidak disebutkan adanya pembelian atau impor sistem pertahanan dari luar negeri dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Iran mengandalkan logistik dan industri pertahanan dalam negerinya untuk memulihkan kekuatan pascakonflik. Hal ini juga menunjukkan kepercayaan diri Teheran terhadap kapabilitas militernya, meskipun berada di bawah tekanan dan sanksi internasional.
Perlu diketahui, ketegangan militer Iran-Israel bukan hal baru. Pada Oktober tahun lalu, serangan Israel terhadap fasilitas rudal Iran sempat dibalas lewat latihan militer yang memamerkan sistem buatan Rusia, sebagai upaya membangun kembali kepercayaan militer Iran setelah fasilitas industrinya diserang.
Namun serangan yang terjadi pada Juni lalu menunjukkan skala konflik yang jauh lebih luas dan terbuka. Keunggulan udara Israel sempat memberi tekanan besar bagi Iran, meskipun Iran dengan cepat membalas lewat pemulihan sistem pertahanan internalnya.
Pengamat militer menilai bahwa langkah cepat Iran dalam mengganti sistem yang hancur mencerminkan kesiapan strategis serta pesan politik kuat bahwa mereka tidak tergantung sepenuhnya pada bantuan militer luar.
Meski demikian, keberhasilan Iran dalam memulihkan sistem pertahanan belum menjawab sepenuhnya efektivitasnya jika terjadi serangan lanjutan dari Israel, yang dikenal unggul dalam kekuatan udara. Dengan situasi regional yang terus memanas, ketegangan antara kedua negara diprediksi masih akan terus berlangsung.
Langkah Iran ini pun menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang di kawasan Timur Tengah, yang masih diwarnai instabilitas dan konflik berkepanjangan.
Editor : Moch Vikry Romadhoni