Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Skor Keinginan Punya Anak Perempuan Korea Paling Rendah, Ini Penyebabnya

Moch Vikry Romadhoni • Sabtu, 19 Juli 2025 | 02:13 WIB

 

Perawat merawat bayi baru lahir di pusat perawatan di CHA Ilsan Medical Center di Goyang, Korea Selatan (28/5).
Perawat merawat bayi baru lahir di pusat perawatan di CHA Ilsan Medical Center di Goyang, Korea Selatan (28/5).

 

Radar Pasuruan - Perempuan di Korea Selatan menunjukkan keengganan tertinggi untuk memiliki anak dibanding negara maju lain yang disurvei dalam studi yang didukung PBB.

Mengutip Korea Times, temuan ini menyoroti krisis demografi yang makin parah di Korea Selatan, serta ketimpangan gender yang bertahan lama soal pandangan menjadi orang tua.

Data awal studi panel keluarga oleh Korean Women Development Institute (KWDI), yang diumumkan Rabu (16/7), menunjukkan skor keinginan perempuan Korea untuk punya anak hanya 1,58 dari skala 5. Ini yang terendah dari delapan negara dan wilayah pembanding.

Temuan ini rencananya akan dipaparkan dalam forum kebijakan kesetaraan gender yang digelar KWDI pada Kamis (17/7).

Sebagai catatan, pria Korea Selatan mencatat skor niat memiliki anak sebesar 2,09. Angka ini menunjukkan kesenjangan gender tertinggi dibanding negara-negara peserta survei seperti Jerman, Belanda, Denmark, Inggris, Norwegia, Austria, dan Hong Kong.

Survei ini merupakan bagian dari Generations and Gender Survey (GGS), proyek panel global yang digagas Komisi Ekonomi PBB untuk Eropa. Tujuannya untuk menelusuri perubahan pola keluarga dan peran gender.

Meskipun skor keinginan pria Korea punya anak hampir setara dengan rata-rata global, skor perempuan justru jauh lebih rendah.

Korea mencatat kesenjangan gender sebesar 0,51 poin—jauh lebih besar dari negara seperti Jerman (0,05 poin), Inggris (0,04 poin), dan Denmark (-0,06 poin).

Ironisnya, warga Korea justru memiliki pandangan paling positif tentang pentingnya anak dalam hidup. Skor perempuan dalam menilai pentingnya anak untuk hidup bahagia mencapai 2,93, dan pria 3,08—paling tinggi di antara semua negara dalam studi.

Nilai ini bahkan melampaui masyarakat yang dikenal menjunjung tinggi keluarga, seperti Hong Kong (perempuan 1,73, pria 2,06), dan negara lain seperti Norwegia serta Belanda yang nilainya di bawah 2.

Korea Times menyebutkan survei ini melibatkan 2.634 responden laki-laki dan perempuan berusia 19–59 tahun dari berbagai wilayah di Korea. Sebanyak 76 persen mengikuti wawancara langsung, sisanya lewat survei daring.

Survei ini menjadi langkah awal menuju survei panel keluarga yang lebih lengkap tahun depan. Tujuannya untuk memetakan perubahan struktur keluarga dan perjalanan hidup masyarakat.

Presiden KWDI, Kim Jong Sook, menyebut pola pembentukan keluarga di Korea makin beragam. Namun, tingkat kelahiran masih yang paling rendah di dunia.

Ia menambahkan bahwa pendekatan riset baru yang mencerminkan kompleksitas aspek gender, generasi, dan keluarga sangat penting dalam menjawab persoalan rendahnya angka kelahiran.

Tingkat kesuburan total Korea Selatan—yakni jumlah rata-rata anak yang mungkin dimiliki seorang perempuan selama hidupnya—sedikit meningkat menjadi 0,82 pada kuartal I 2025, dari sebelumnya 0,77.

Walaupun mengalami sedikit kenaikan, angka kelahiran Korea tetap jadi yang terendah di antara negara-negara OECD, yang memiliki rata-rata 1,51 pada 2022.

Angka ini masih jauh di bawah ambang batas pergantian generasi sebesar 2,1, yang dibutuhkan agar populasi tetap stabil dari generasi ke generasi.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#korea #pbb #anak #gender