Pertemuan yang melibatkan Menteri Keuangan AS Scott Bescent dan perwakilan dari Tiongkok tersebut berlangsung di Jenewa, Swiss, dan menghasilkan kesepakatan untuk memberlakukan tarif impor yang lebih rendah.
AS akan mengenakan tarif resiprokal sebesar 30% terhadap barang-barang dari Tiongkok yang masuk ke negaranya.
Sementara itu, Tiongkok akan memberlakukan tarif sebesar 10% untuk produk asal AS.
Perwakilan Dagang AS, Jannieson Greer, dalam konferensi pers yang dikutip dari Associated Press (AP), menyatakan bahwa AS setuju untuk menurunkan tarif bea masuk yang sebelumnya sebesar 145% terhadap barang-barang dari China, menjadi hanya 30%.
Greer juga menambahkan bahwa Tiongkok juga akan menurunkan tarif bea masuk terhadap barang dari AS ke angka 10%, sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.
Langkah ini diambil oleh AS karena negara itu mengalami defisit perdagangan yang memburuk setelah sebelumnya menerapkan tarif resiprokal sebesar 145% terhadap produk dari Tiongkok. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan Scott Bescent.
Bescent menegaskan bahwa jika kondisi tarif resiprokal yang sangat tinggi ini terus dipertahankan, maka perekonomian global bisa terus terguncang bahkan memicu embargo barang.
"Dampak dari tarif yang sangat tinggi ini adalah terjadinya embargo. Dan itu bukan sesuatu yang diinginkan siapa pun. Kami menginginkan perdagangan. Kami menginginkan perdagangan yang lebih adil dan seimbang. Dan saya percaya kedua negara berkomitmen untuk mewujudkannya," ujar Bescent.
Editor : Moch Vikry Romadhoni